Cerita Seks Tante Dina Yang Kesepian

By | November 5, 2022

Cerita Seks – Nama saya Joni dan saya bekerja di sebuah perusahaan di kota yang terkenal dengan hidangan khasnya.
Pekerjaan saya hanya bagian dari akuntansi untuk penerimaan dan pengiriman barang, dan lebih tepatnya, ke gudang penyimpanan. Saya sendiri berasal dari kota yang terkenal dengan udaranya yang dingin. Saya tinggal di sini hanya di sebuah penginapan tidak jauh dari perusahaan, masuk gang hanya bermotor (roda 2).

Ibu Dina Yang Haus Seks

Waktu Itu dimulai ketika gw hanya di sana selama 5 bulan. Wajah gw juga biasa saja, tetapi gw adalah orang yang santai, sehingga gw mudah dikenali dan mengenal satu sama lain. Bukan di kos, tapi di lingkungan kos (orang asli sekitar kos). Jadi saya diperkenalkan dengan seorang ibu yang saya pikir normal. Tubuh khas pria berusia 32 tahun. Dia adalah ibu yang baik (baik karena dia ingin memperkenalkan putrinya kepada saya). Bu Dina (nama lengkap KarBu Dina) menelepon, waktu itu sekitar jam 7 malam, saya akan membeli nasi goreng di daerah sekitar asrama. Saya bertemu iBu Dina yang juga sedang mengantri nasi goreng. Pertama saya ucapkan malam Bu Dina : Jon ? Mau beli nasi goreng juga…?
Saya: (tersenyum) Iya Bu,belum makan dari siang hari ini. Biasa anak kos hehe….
Bu Dina : Iya namanya juga jauh dari orang tuanya. Ya, pacarnya di ajak ke kos biar dia masak untukmu siang hari.
Saya: (tertawa) Saya masih belum punya bu……
Bu Dina : Berapa kali Anda pacaran?
Saya : Sekali Bu lalu di putusin….

Percakapan saya dengan Bu Dina terputus karena pesanan nasi goreng saya sudah siap. Akhirnyakami pulang bersama-sama. Di tengah perjalanan, Bu Dina berkata: “kamu sama anak aku mau atau tidak?”. Saya hanya tertawa dan menjawab, “Ya, tidak apa-apa jika Anda menginginkan menantu seperti saya,”dan aku tertawa terbahak-bahak. Bu Dina berkata lagi, “Yaudah Nanti abis makan di rumah ibu ya, ayah voni tidak ada di rumah, jadi Voni punya teman untuk menonton TV. aku bilang siappp…
Tepat pukul 8 malam, saya bergegas menuju rumah Bu Dina yang hanya berjarak 100 meter dari kos. Mendekati rumah, Bu Dina sedang berada di teras bersama anak tunggalnya. Kemudian mereka mengundang saya dan kami duduk bertiga.
Bu Dina: Kenapa kamu makan begitu cepat? gak sabar ketemu Voni ya?
Saya : hehehe yang suruh saya kesini kan ibu..
Voni: (Tertawa) Mengapa ibumu seperti itu.
Bu Dina: Oh, Joi kan jomblo gpp donng ..
Voni: Ya, kalau Joni mau, Bu…!!!. Voni tidak cantik. Kulit agak kecokelatan, badab juga gak tidak tinggi!!!
Bu Dina: Tidak apa-apa, Von. iya kan Jon?
Saya: Ya Bu hehehe
Bu Dina : tuh kan apa Ibu bilanh.
Voni: (tertawa bahagia) Terima kasih lho bang Jon, aku masuk dulu, besok mau istirahat, besok main kesini lagi ya..
Saya: Ok Voni, selamat istirahat (dia bangun meninggalkan saya dan ibunya)

Sepintas, Voni tidak tinggi, tetapi tubuhnya okelah, dadanya cukup bulat, meski saya tidak tahu asal-usulnya. Sedangkan tubuh iBu Dina hampir sama, bedanya terlihat sedikit montok. Bu Dina: Terima kasih Joni kamu sudah mau.
Saya : apa maksud ibu?
Bu Dina: Saya tahu putri saya tidak cantik, jadi saya mencoba untuk memanfaatkan apa yang saya miliki. Jangan seperti ibu yang tinggal suami.
Saya: apa hubungannya? Apakah ada masalah dengan suami ibu?
Bu Dina: (menghela nafas dan mengeluh) Ya, ayah Voni jarang pulang. Mungkin dia tidak menyukainya lagi. Ibu sudah tua mungkin ya. (Bangun, ibu bertanya) Apa menurut Joni, kekurangan saya di mata orang?
Saya : (bingung) mmmm ada apa Bu? (melihat tubuh Bu Dina dari atas ke bawah,)
Bu Dina : Apa? kurang dari saya? jawab saja dengan jujur ​​apa yang Anda pikirkan.
Saya: Tidak apa-apa kan saya berpendapat?
Bu Dina: Terserah kamu. jadi ayah Voni mau pulang.
Saya: (Berani sendiri) Ibu Sih memang sudah tua, mungkin mulai banyak kekurangan, tetapi jika saya adalah suami ibu, saya akan pulang setiap hari ibu.
Bu Dina: Mengapa Anda mengatakan itu? sementara aku begitu saja, tubuhku tidak sempurna, payudaraku kendor, wajahku gelap, pakaian gini gini aja.
Saya: Kalau pakai baju seperti itu, menurut saya sudah sangat menarik karena baju di sini khas orang (kebetulan Bu Dina hanya memakai rok panjang dengan 3 kancing di depan).
Bu Dina : masa Sich (berbalik menghadapku, lalu menatapku) yah, apa lagi?
Saya: uh-uh-uh, masih oke bu..

Bu Dina: Oh, yang ini (sambil pegang kedua dadanya, Bu Dina duduk di sebelah kiriku) Kalau ini sih sama dengan yang lain, itu buktinya ayah Voni juga gak tertarik lagi.
Saya : gitu ya bu..
Bu Dina: Kamu Mau tahu ukurannya berapa?
Saya: ummm Boleh bu
Bu Dina: Hanya 38c dan sudah kendor. Berbeda dengan Voni itu 36C dan masih kencang.
Setelah itu aku dan Bu Dina diam selama 10 menit sampai jam 10 malam, akhirnya saya berpamitan pulang dengan Bu Dina.
Bu Dina: Ya kalau iya, ya tidak apa-apa, itu nomor ponsel ibu ya.
Saya: Nomor Voni dong bu?
Bu Dina: Sama aja… nanti saya kasih lagi nomor Voni kalau sudah kembali ke kos, saya akan memasukkan nomornya dan menyimpannya. Salah satu aplikasi chat hari ini muncul dengan nomor ini. saya kirim chat pertama “ini Joni bu…” beberapa menit kemudian “oh ini nomer kamu sudah saya simpan” jawab nya
Beberapa hari kemudian, Minggu malam tepatnya jam 7 malam. Saya mengunjungi rumah Bu Dina lagi. Saya bertemu Voni, memulai percakapan dan mengenalnya. Saya mulai bercerita tentang perjalanan cinta saya, saya pikir saya baru tahu bahwa Voni baru saja lulus dari sekolah menengah tahun ini. Saat dia bercerita, saya tidak berkonsentrasi pada cerita, tetapi saya mengikuti bentuk tubuh dan wajahnya. Faktanya, Voni tidak terlalu menarik, hanya dada dan bokongnya yang terbentuk. Tiba-tiba Voni menutupi payudaranya dengan tangannya, aku kaget.

Ivan: Apa yang kamu tonton?
Saya: Itu tidak nyata uh-huh.
Voni: Mas, Suka begituan ya?
Saya: Apa itu?
Ivan: Ini Dada. dari tadi kamu lihat payudaraku!!!!!
Saya: (berani) Terlihat nantang banget hehehe.
Voni: Ini karena ibu…
Saya: Ibu? ada apa ibu? Apa hubungannya dengan Dada?
Voni: awalnya kecil bang… tapi ibuku menyuruhku untuk membuatnya sedikit lebih besar. biar pria tertarik.
Aku : bagaimana caranya?

Voni: Ini adalah ibu yang sama yang membuat saya minum kacang di halusi dan di usap setiap kali saya pergi tidur selama 3 bulan. Karena itu, itu sedikit mengembang. Dari 36 A hingga 36 C
Saya: Oh ya? Apakah Aku boleh liat atau pegang?
Voni: Jangan bang, nanti di liat. Voni bingung juga ya, apakah kamu benar-benar menyukai Voni?
Saya: Jika saya tidak menyukainya, mengapa saya di sini untuk akhir pekan?
Voni: (berpikir) di ruang tamu aja yuk. Masuklah.
Lalu aku mengikutinya. Dan terjadilah hanya kami berdua. Aku memeluknya dan meremasnya erat. Dalam keadaan ini, Kontol saya yang sangat tegang. Ku bukaya, dia memiliki payudara penuh dalam bra cokelat yang menyerupai kulitnya. sangat indah…… Setelah aku meremas remasan di luar, sari hanya menutup matanya. Tiba-tiba ibunya muncul… dan berkata “Joni…”. Voni dan aku segera membersihkan diri dan dengan malu-malu menundukkan kepala kami. Saya juga takut dimarahi. Ibunya menyuruh Voni pergi ke kamar tidur, dan mengikuti nya. Saya dibiarkan sendiri selama sekitar 30 menit. Setelah itu, Voni keluar dan menoleh ke arahku dan berkata, “bang sama Ibu abang disuruh pulang dulu. Maaf ya bang…!!!” “bang..jangan khawatir ini milik bang Joni” sambil menunjuk dadanya, lalu kupeluk dia dan berbisik “terima kasih.” Ivon menjawab, “Besok sore aku akan ke kos bang Joni ya” Lalu aku tersenyum dan pergi.

waktu sampai di kos ibu dina chat mengatakan mengapa peluk voni? juga meremas payudaranya? Kamu sangat kasar…. Tidakkah kamu merasa kasihan dengan masa depan voni?
Saya: Maaf Bu, saya membuat kesalahan
IBu Dina: Kamu bisa alasan aja kalau udah khilaf.
Saya: Iya Bu, sebelumnya terlalu sepi di rumah. hehehe
IBu Dina: jangan kasar. Tidak baik tinggal dengan tetangga jika demikian.
Saya : Iya Bu.
Bu Dina : sebenar nya gapapa, tapi jangan kelewatan.
Saya: benar? (akupun senyum sendiri baca chatnya).
IBu Dina: Apa yang kamu suka dari voni? dada, kan?
Saya: hehehe iya bu… setelah pertama kali ibu saya bilang jadi saya fokus ke situ hehehe
IBu Dina: Ya, itu aku yang buat …… yaudah bisakan kamu bermain di rumah besok pagi? Sarapan di sini.
Saya : Iya bu, dalam hati saya ternyata iBu Dina tidak marah….. malah besok saya akan diajak sarapan. Saya pasti akan melihat syikal lagi besok. Pagi telah tiba. memakai celana dan sandal 3/4, masuk ke rumah Voni, berjalan lurus ke depan. rumahnya iBu Dina ada di ruang tamu. masuk segera.

Saya : Voni dimana?
IBu Dina : Jangan suruh ke tempat neneknya bawa makanan pagi ini. Kalau hari Minggu pasti harus antar makanan ke nenek.
Saya : ooh gitu ya bu!!!

IBu Dina : Makan dulu, kamu belum makan tuh.
Saya: (mengikuti dia saya perhatikan dia mengenakan daster !!! Dapatkah saya menemukan solusi untuk ini sementara Voni pergi, suaminya juga tidak pulang selama dua atau tiga minggu, dia pasti sangat kesepian.
Saya diundang makan, tetapi Bu Dina tidak makan dia mengatakan bahwa dia udah sarapan bersama Voni. Setelah saya selesai makan, saya membuat kopi, ketika saya meletakkannya, saya melihat daster nya terbuka dan tidak di kancing. terlihat bra-nya. (Wih bagus… ..nich). Kemudian Bu Dina mengucapkan mau mandi dulu kepadaku. Sambil memakai handuk. Saya menikmati kopi saya sambil menunggu Bu Dina mandi dan Voni pulang. Saat santai, Bu Dina keluar dari kamar mandi dan berjalan di depanku, terbungkus handuk, membawa pakaian basah…. Aku Berpikir gimana cara merayunya, dia kembali ke kamarnya, yang tidak jauh dari ruang makan. Ibu keluar …. dan bertanya padaku
IBu Dina: Apakah kamu tegang ya? apa kamu sange? (Dia datang dan duduk di depan saya)
Saya: (Diam dan perhatikan pakaiannya. Dia mengenakan tank top biasa, 3 kancing di bagian depan terbuka untuk memperlihatkan bra coklat dan putih yang kontras dengan kulitnya yang agak gelap. Dia, belahan dadanya baik-baik saja meskipun dia berusia 32 tahun .) Mengapa Anda melihatnya seperti ini…?
IBu Dina: Saya ingin berbicara dengan Anda. Ibu benar-benar kesepian….. Ayah Voni jarang pulang. Akibatnya, ibu mambayangkan ayah Voni setiap malam. tapi setelah kejadian kemarin, ibu tidak membayangkan ayah Voni, tapi kenapa membayangkan kamu…..? apa yang kamu gunakan?
Saya: Ya tidak ada apa-apa saya hanya berharap (dalam hati saya … Wah, belum dapat anak nya jadi dapat ibunya … .. lumayan)
IBu Dina: Sudah lama sekali ayah Voni tidak memelukku. Apakah Anda ingin membantu ibu? (membusungkan dada, membuka garis leher)
Saya: (melihat ke bawah sambil berpikir) Bagaimana saya bisa melakukannya? Dan jika Voni datang?
Bu Dina: Jangan khawatir, Voni pulang sore… dia bilang dia akan mampir ke kosmu nanti… Jadi sekarang jam 10. Kita punya waktu. siap Jangan berubah pikiran, yang utama adalah Anda siap. Dia mengunci pintu depan lalu masuk ke kamar… Nanti kalau saya panggil, masuklah…
Saya: (hanya tertegun dan tanpa sadar mengangguk setuju) Kemudian ibu bangkit dan berjalan menjauh dari saya.
Sementara saya tinggal, tidak lama Bu Dina memanggil dari kamar, membuka pintu dan berkata, “Joni.. ke sini.” Aku berdiri dan penisku tegang, pergi ke pintu dan masuk. Aku melihat bagaimana iBu Dina berdiri di depan cermin dan menyisir rambutnya, setelah berganti handuk… Aku mendekatinya, dia memunggungiku, payudaraku menempel di punggungnya. dia bilang “celana dan bajumu bisa dilepas” aku melepas semua baju dan celanaku kecuali CDku.
IBu Dina : kok bisa nonjol gitu? Apakah milikmu juga besar? (Tangan kanannya meraih tangan kananku dan meletakkannya di dadanya, masih terbungkus bra putih. Dia melepas handuk nya itu…. Aku merasa di sana… dan ternyata Dia tidak memakai CD… Aku langsung ke vaginanya dan … .itu sangat basah … .Aku kembali ke atas dan meremas dadanya … .serunya gembira.
Aku melepas branya dan meremasnya..dia berbalik dan bercipok selama sekitar 5 menit, dia bertanya, “Apakah payudaraku kendor?” Saya menjawab, “Tidak apa-apa, tapi dia masih segar, buktinya yang saya mau Dengan ibu,” dan kemudian saya mengisap puting kanannya. dia datang terlambat dan mengeluh.

Kanan dan kiri bergantian. Lalu dia berkata dan mengangkat wajahku. saat berciuman dia berkata punya kamu besar dan panjang, aku jadi basah ibu cium ya?” Dia duduk lalu buka cd gw, kemudian di jilatnya lah kontol saja sampe mengkilap, setelah itu dia berbaring dan membuka kedua pahanya dan memanggil saya untuk masuk. Aku berjalan ke arahnya. Ketika siap untuk bertarung, masuklah kepala burungku ke dalam sedikit.’namun aku melepasnya dan menggantinya dengan lidahnya menari di lubang. dia memegang dan menjambak rambutku. dan berteriak “apa yang kamu lakukan.. oh.. enak” aku merasa lebih kuat. ketika dia basah Saya membimbingnya sedikit, dan kemudian tiba-tiba saya mengisap. IBu Dina melompat dan berteriak, “Oh, jonn… … … … … bagus sekali …” Ketika iBu Dina merasa baik, Aku duduk dan langsung memasukkan burung itu. cepat , dan kemudian. Aku menyimpannya dalam-dalam. ibu seperti “Oh … .. kamu gila aahhh…… Sangat lezat ……. Hebat sekali……………” sambil dia kaget 3 kali. Aku memukul dan menengang sekitar 10 menit ketika ibu berteriak dan meraihku. Aku melanjutkan tanda-tanda orgasmenya lagi dan lagi dengan langkah cepat. Bu, permisi.. .. hingga 30 menit dengan gaya yang sama. Saya merasa sesuatu akan terjadi, saya akselerasi lagi.

Dia berteriak dan menangkapku. ketika keluar saya menggenjotnya dan spermaku keluar di dalam vaginanya crotttt,,,crotttt,,,crotttt,,,. Sampai 3-4 kali. Aku melepasnya dan berbaring di sebelahnya. Saya merasa seperti sedang tidur ketika saya memeluk Bu Dina. Saya tidak tahu berapa lama sebelum saya menyadari bahwa itu pukul satu siang. Saya bangun, berpakaian dan melihat bahwa Bu Dina sudah pergi, ketika saya meninggalkan kamar saya melihatnya di meja makan membuat kopi untuk saya. duduk hanya dibungkus handuk. dia sedang mengeringkan rambutnya. Dia tersenyum padaku.
IBu Dina : Jon kamu bangun, kamu pasti lelah.
Saya : iya Bu. maaf (duduk)
IBu Dina: (tertawa) meskipun kamu hanya keluar sekali, saya puas karena Saya bisa keluar 4 kali. (kedipan). Tapi ingat, jika Anda menginginkannya lagi, katakan saja ya. Jangan melampiaskan nafsumu ke Voni. Sangat disayangkan bahwa dia masih perawan.
Saya : (tertawa) iya bu. Lanjut Ngentot Dengan Voni
IBu Dina: kalau hanya berciuman dan menyusui, tidak apa-apa. tapi tidak nafsumu. karena Saya tidak bisa tau semuanya. (Berbisik) karena saya akan kecanduan Anda.
Saya : Iya bu ya saya siap…..hehe hehe saya selalu pamit pulang karena saya jam 1 lewat 30. Saya bangun dan iBu Dina juga bangun dan memeluk saya dan mencium bibir saya, saya menjawab lebih panas Lalu Kata iBu Dina: “Kalau mau ke sini lagi, nanti sore, kecuali hari Minggu, kalau hari Minggu pagi. Kalau gari biasanya lewat jam 9.00 malam, ya” aku mengangguk. Dan mengucapkan selamat tinggal padanya. Saya meninggalkan meja makan dan pulang ke kos saya, ketika saya kembali ke kos, saya hanya tersenyum sendiri dan terkejut. Kenapa saya datang, jam 4 saya sudah mandi dan siap menunggu Voni, yang berjanji akan datang jam 4. Saya menunggu sampai matahari terbenam, tetapi tidak ada datang.